Op. Ni HARIAN

Seperti di uraikan sebelumnya bahwa Tuan Sogar Manurung menikah dengan boru Nainggolan melahirkan dua anak yaitu Raja Natotar dan Op. Ni Harian atau sering disebut Puni Harian.  Puni Harian menikah dengan Boru Butar-butar Sitambak dari Sihiong, Kabupaten Tobasa.  Keturunan dari Puni Harian yang menjadi Ketua Punguan Tuan Sogar Manurung dohot Boruna yaitu Drs. Paian Manurung yang sering disebut Guru Paian, Elfanus Manurung, Halomoan Manurung, Drs. Lungguk Manurung, dan Prof. Dr. Adler Haymans Manurung.  Keturunan dari Puni Harian ini menempati banyak huta di Janjimatogu selain Lumban Tambak dan Lumban Lintong.   Keinginan Tuan Sogar merebut tanah Janjimatogu adalah untuk kepentingan keturunannya yang diperkirakannya semakin banyak.  Keturunan Puni Harian sebagai berikut:

 

Ada cerita menarik hubungan baik antara Manurung Janjimatogu dengan Butar-Butar di Sihiong.   Kelompok Butar-butar Sihiong ini sangat baik dan hormat bahkan kalimat batak yang selalu diucapkan yaitu elek marboru sangat dilaksanakan bahkan diterapkan lebih nyata.  Istri Puni Harian mempunyai ito kandung yang tinggal di Sihiong dikenal sangat jahat pada sekitar perkampungan tersebut.  Banyak orang yang tinggal di Sihiong dirugikan oleh Lae Puni Harian.  Lae Puni Harian ini sudah menikah dan mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan menjadi penerus dari Butar-butar Sihiong jika bapaknya tidak ada.  Akibat tingkah laku laenya Puni Harian yang tidak diterima oleh masyarakat di sekitar Sihiong, maka ada marga dari sekelompok marga yang juga punya hubungan dengan marga Butar-butar berencana untuk membunuh Butar-butar tersebut.  Sesuai dengan rancangan dari marga tersebut maka Butar-butar dari Sihiong terbunuh.  

            Setelah Butar-butar Sihiong tersebut dibunuh dan dikuburkan ternyata rencana bukan saja Butar-butar yang sangat jahat terhadap masyarakat sekitar Sihiong, tetapi juga sampai kepada keturunannya yang masih kecil.  Tindakan ini dilakukan agar tidak terjadi balas dendam dari keturunan marga Butar-Butar di Sihiong kepada pembunuhnya.  Mendengar cerita dan rencana tersebut maka Anak kecil ini disembunyikan ke daerah Janjimatogu ke tempat tinggal Puni Harian.  Marga yang membunuh Butar-butar dari Sihiong tersebut terus mencari anak dari kecil tersebut agar tetap dibunuh.  Kemudian Puni Harian bertemu dengan marga yang berencana juga membunuh si anak kecil keturunan dari Butar-butar Sihiong.  Puni Harian menyampaikan kalimat agar marga tersebut tidak membunuh anak kecil atau paraman dari Puni Harian tersebut bila ada yang ingin melaksanakan maka Puni Harian akan melakukan tindakan kembali.  Puni Harian ingin tetap tidak terjadi persoalan di kemudian hari agar anak ini bisa tetap hidup.  Kejadian ini membuat Butar-butar di Sihiong tetap ada sampai saat karena telah mempunyai keturunan.  Oleh karenanya, Butar-butar di Sihiong memberikan pesan kepada keturunannya agar Manurung Janjimatogu dihormati.  Saat ini, ada juga pomparan Puni Harian yang kembali mengambil boru Butar-butar di Sihiong diberikan perkampungan terutama dari pomparan Pamulha, sehingga ada pomparan Tuan Sogar yang tinggal di Sihiong.  

PAMULHA 

Pamulha adalah anak pertama dari keturunan Puni Harian atau cucu dari Tuan Sogar dari anaknya yang ketiga Puni Harian (setelah Op. Humaliang, Raja Natotar).  Pamulha menikah dengan boru Butar-butar dari Sihiong Porsea, Kabupaten Tobasa.  Pamulha kawin dengan paribannya karena Bapaknya Puni Harian menikah dengan boru Butar-butar dari Sihiong juga.  Adapun tugunya dibawah ini terletak di Hutagurgur, Janjimatogu Porsea Kabupaten Tobasa.

Pamulha menikah dengan boru Butar-butar dari Sihiong atau dengan paribannya dikaruniai anak 2 yaitu Op. Binjolam dan Tuan Dugar.  Keturunan dari Pamula ini ada juga yang merantau dan tinggal di kampung Tulangnya di Sihiong selain di Hutagugur, Janjimatogu. Adapun silsilah dari Keturunan Pamulha diuraikan menggunakan bagan dibawah ini.

 

 

  

 


 

  


 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

Op. TUAN JOJOR 1 

Op. Tuan Jojor 1 merupakan anak kedua dari Op Harian dan merupakan cucu dari Tuan Sogar Manurung.  Kelihatannya, keturunan Op, Tuan Jojor 1 ini sangat banyak dibandingkan dengan keturunan Tuan Sogar Manurung dari anaknya yang lain.  Bahkan antara pomparannya pernah saling perang dalam rangka mendapatkan kekayaaan dimiliki.  Op. Patuan Jojor 1 memiliki anak 3 yaitu Op. Gumara, Op. Talan dan Op. Ni Harian 2 atau Op. Ni Harian Mambuat Goar.  Op. Patuan Jojor 1 menikah dengan boru Nainggolan Parhusip dan melahirkan 3 anak yaitu Op. Gumara; Op. Talan dan Op. Ni Harian 2 atau Op. Ni Harian mambuat Goar. 

Uraian selanjutnya dimulai dengan menguraikan Keturunan Op. Gumara. Op. Gumara ini sangat terkenal juga kehebatan dan merupakan orang kaya karena memiliki kerbau yang banyak, karena apa yang diomongkan bakal terjadi. Ketika ingin melarikan diri dari Parbagasan ke daerah Batang Toru, dia menancapkan sebuah kayu hariara dan mengatakan bila hariaha ini bertumbuh dan memiliki daun maka memberikan arti bahwa dirinya masih hidup. Ternyata pohon hariaha tersebut hidup dan mempunyai daun dan ketika pulang kembali pohon itu sudah banyak daun dan bertunas serta semakin besar sebagai tanda keturunannya sudah banyak.

 

 

Guru Marjolam 

Op. Gumara 2 yang sering disebut Op. Gumara namambuat goar mempunyai anak 2 orang yaitu Guru Marjolam dan Op. Tuan Nagaja.  Op. Gumara 2 masih bertempat tinggal di Parbagasan, Janjimatogu, Porsea Kabupaten Tobasa.  Setelah Guru Marjolam menikah maka tempat tinggal di Sosorsaba, Janjimatogu Porsea Kabupaten Tobasa.  Guru Manjolam menikah dengan boru Sitorus, boru Sirait dan boru Simangunsong.  Guru Marjolam mempunyai dua anak yaitu Op. Jaha Raja dan Op. Suanglan.  Kedua anak Guru Marjolam ini mamompari di Sosorsaba, Janjimatogu Kabupaten Tobasa.  Untuk mendapatkan tempat ini maka datang dari Porsea menuju Janjimatogu, kampung Sosorsaba ini di sebelah kiri setelah melewati sungai yang dikenal dengan Aek Sala. Artinya, kampung Sosorsaba lebih dulu dapat dari Janjimatogu.  Keturunan dari Guru Marjolam ini telah membangun tugu untuk Guru Marjolam yang terletak di  Janjimatogu yang diperlihatkan dibawah ini.

 

 

 

 

 

Op. Tuan Nagaja 

Op. Tuan Nagaja adalah adik dari Guru Marjolam dan anak kedua dari Op. Gumara 2 atau Op. Gumara namambuat Goar.  Op. Tuan Nagaja menikah dengan boru Sitorus dan tinggal di Parbagasan, Janjimatogu Porsea Kabupaten Tobasa.  Atas pernikahan ini dikaruniai anak yaitu Op. Manggapang, Op. Halibutongan, Op. Runggulan, Op. Sunggu Raja dan Op. Jori.  Keturunan dari Op. Tuan Nagaja sudah mendirikan tugu yang diperlihatkan dibawah ini.

Keturunan Tuan Nagaja ini menjadi Kepala Nagari dan Raja Utan di Janjimatogu, Porsea Kabupaten Tobasa.  Togu Manurung, Ph.D salah satu dari keturunan Tuan Nagaja yang telah mencapai tingkat Doktor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Op. Humlan : 

Op. Humlan ini cucu dari cucu Puni Harian atau generasi ke-9 dari Toga Raja Manurung.  Adapun Op. Humlan menikah dengan boru Sitorus dan atas pernikahan ini dikaruniai satu anak yaitu Op. So Juangon. Anak Op. Humlan yaitu Op. Sojuangon menikah dengan boru Doloksaribu dan dikaruniai dua anak yaitu Panambang dan kemudian mempunyai anak dua yaitu Pamatar dan Op. Lobi. 

 

Adapun tarombonya Op. Humlan sebagai berikut:

 

PALA ULUAN 

Pala Uluan adalah ondok-ondok[1] dari Puni Harian dan merupakan generasi ke-9 dari Toga Raja Manurung.  Arnold Manurung, Robert Manurung, Ph. D dan Prof. Dr. Adler Haymans Manurung adalah keturunan dari Oppui Pala Uluan.

Pala Uluan menikah dengan boru Dolok Saribu dari Doloksaribu Narambean Porsea, Kabupaten Tobasa.  Atas pernikahan ini dikaruniai anak 2  laki-laki yaitu Op. Tuan Jojor dan Op. Tombal. Kemudian, Op. Tuan Jojor menikah dengan boru Butar dari Sihiong. Atas pernikahan Op. Tuan Jojor dengan boru Butar-butar dari Sihiong ini dilahirkan dua anak laki-laki.  Bila diperhatikan silsilah yang beredar atas keturunan Op. Patuan Jojor hanya satu yaitu Op. Ronggur dan ada cerita tersendiri.  Adapun menceritakan kembali cerita ini bukan mengungkit  persoalan yang terjadi masa lalu tetapi menginginkan agar kembalinya kedua orang anak Op. Tuan Jojor dari boru Butar-butar tersebut.  Kejadiannya, terjadi perselisihan di Janjimatogu antara keturunan Op. Gumara akibat pusaka yang dimiliki.  Anak Tuan Jojor yang dua orang tersebut sampai saat ini belum diketahui namanya pergi melarikan diri ke daerah Kualu di Rantau Parapat.  Daerah Kualu ini merupakan sebuah kampung di Rantau Parapat dekat Kampung Mesjid. Kedua anak Op. Tuan Jojor ini pergi melarikan diri dengan membawa ibunya dan meninggalkan Op. Tuan Jojor. Keturunan dari kedua orang ini pernah mencoba menjumpai  Keturunan dari Op. Tuan Jojor yang saat ini tinggal di Cintai Damai, Kec. Air Putih Kabupaten Batubara.  Tetapi pertemuan tersebut tidak terjadi dan kami berharap terjadi pertemuan kembali.  Perginya, kedua anak tersebut beserta ibunya membuat Op. Patuan Jojor menikah lagi dengan Solobian boru Dolok Saribu[1] dari Lumban Ginabean, Janjimatogu. Atas pernikahan dengan boru Dolok Saribu ini dilahirkan seorang anak yang disebut dengan Op. Ronggur.  Keturunan dari Op. Ronggur ini yang selalu dibuat dalam silsilah keturunan Pala Uluan bersamaan dengan keturunan Op. Tombal Manurung dimana Robert Manurung, Ph D dan Prof. Dr. Adler Haymans Manurung merupakan keturunannya.

            Awalnya, keturunan Pala Uluan tinggal di Banjar Ganjang dan Op. Patuan Jojor dan anaknya Op. Ronggur juga tinggal di Banjar Ganjang.  Anaknya Op. Tombal juga ada yang tinggal di Banjar Ganjang yaitu Op. Si Oloan yang merupakan cucu dari Op. Mejan atau Ondok-ondok dari Pala Uluan.  Keturunan Op. Tombal Manurung umumnya pergi bertempat tinggal di Lumban Gorat, Janji Matogu, sehingga kelihatan banyak keturunan Op. Mejan tinggal di kampung tersebut.  Marihot Manurung yang menikah dengan boru Situmorang dari Lumban Holbung Porsea, adalah anak dari Op. Mejan dan juga Oppung dari Op. Putra Manurung dan Prof. Dr. Adler Manurung pergi pindah ke Lumban Rihit, Janjimatogu. Anak dari Marihot hanya satu yaitu Op. Mazmur Manurung menikah dengan boru Doloksaribu dari Lumban Natinggir.

 Adapun keturunannya seperti terlihat di bawah ini.

 


 

 

 

 

 

 

Pomparan Op. Tuan Madiri 

Sebelum membahas Op. Tuan Madiri maka harus dipahami dulu siapa orang tua dari Op. Tuan Madiri ini. Op. Patuan Jojor 2 menikah dengan boru Sitorus dari Silamosik dan boru Butarbutar. Op. Tuan Madiri adalah Ondok-ondok dari Op Harian atau anak keempat dari Patuan Jojor 2.  Op. Tuan Madiri ini menikah dengan boru Sirait dari Lumban Holbung, Marom Kabupaten Tobasa, yang dikaruniai 3 anak yaitu Paragugun, Op. Debata Uluan dan Op. Ruma Gaja.  Silsilah keturunan dari Op. Tuan Madiri diuraikan pada bagan berikut.

 


 

 


 

 

 

Pomparan ni Op. RONGGUR

 

 

 

LUMBAN  SIMANGAMBIT (Op. GUMARA PARTORUAN)

Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa Istri Op. Gumara ada 2 orang yaitu Boru Sitorus dan Boru Nainggolan Parhusip.  Anak ni Op. Gumara dari Boru Nainggolan ada 3 orang yaitu Op. Jaga Uluan, Pananggara dan Punjung Mas. Ketiga anak Op/ Gumara ini tinggal di Lumban Simangambit Janji Matogu atau Op. Gumara Partoruan. Oleh karena itulah hingga saat ini mereka di sebut Parlumban Simangambit. Sekjen Punguan Tuan Sogar Periode 2012 – 2018 yaitu Ir. Anton Manurung. MM berasa; dari Gomparan ni Op. Jaga Uluan Lumban Simangambit.

Sumber: Monang Manurung – A. Chika (2016)

 

Berikut ini Silsilah dari Robert Manurung (parsinabung) sian Lumban Simangambit.

 

 

 

 

 Silsilah Keturunan dari Punjungmas

 

 

Op. TALAN

Op. Talan adalah anak kedua dari Patuan Jojor setelah Op. Gumara atau cucu dari Puni Harian atau nini nya Tuan Sogar Manurung atau bisa juga disebut generasi ke delapan dari Toga Raja Manurung.  Keturunan Oppu Talan banyak bertempat tinggal di Parjinjingan, Janjimatogu Kec. Uluan Kabupaten Tobasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

POMPARAN PUNI HARIAN 2 

Puni Harian 2 merupakan anak ketiga dari Op. Tuan Jojor 1 atau cucu dari Op. Harian atau Nono[1] dari Tuan Sogar Manurung.  Keturunan dari Puni Harian 2 ini lebih banyak tinggal di Tano Ro, Porsea Kabupaten Tobasa.