Purajum

TUAN SOGAR sudah lama tinggal di Janjimatogu dan juga Sihubak-hubak, pikiran untuk berkelana (maredang-edang) selalu datang ke pikirannya dan sekalian menguji kehebatan dari dukun yang dimilikinya. TUAN SOGAR selalu mendengar bahwa Onan Nagodang Siapari sangat dikenal banyak orang karena banyak orang datang ke tempat ini dimana onan ini dikenal sekarang dengan Onan PORSEA. TUAN SOGAR juga mendengar banyak perampok, penjudi serta perkelahian di Bius Siantar dengan marga Sibuea.

Hasrat pergi ke daerah Bius Siantar tersebut sangat besar dan dilakukannya pergi ke daerah tersebut dengan tujuan menguji kedukunannya.  Ketika TUAN SOGAR sampai di kampung Sibuea yang bersebelahan dengan Bius SIANTAR, dilihatnya ada dua anak gadis yang cantik sedang bertenun Ulos Punsa (ulos ini merupakan ulos paling tinggi diantara ulos Batak).  Lalu TUAN SOGAR bertanya kepada Bapak (marga Sibuea) temannya berbicara, “Ise do Raja Nami anak boru namartonun an? (Siapa dua anak gadis yang sedang bertenun itu ?)” Lalu Bapak tersebut menjawab:”anakku itu dua-duanya.” TUAN SOGAR bertanya lagi: “Apakah anak perempuan itu akan dinikahkan ?”.  Bapak tersebut menjawabnya lagi;” Mereka berdua harus dinikahkan, pilihlah mana yang kau suka”.  Lalu TUAN SOGAR menyatakan bahwa “TUAN SOGAR akan memilih perempuan yang paling kecil.” TUAN SOGAR memilih perempuan yang paling kecil karena kemungkinan paling cantik atau bagus bertenun sehingga bisa diharapkan untuk menghidupi anak-anaknya di kemudian hari karena Tuan Sogar sukanya berkelana ke berbagai daerah.  Anak tersebut bukan menjadi tanggungjawabnya tetapi semua anaknya merupakan tanggungjawab isterinya.  Setelah Bapak SIBUEA mendengar permintaan TUAN SOGAR, maka Bapak SIBUEA menyatakan “kalau kau mengerti adat, saya tidak bisa menikahkan anakku perempuan kedua kalau yang pertama belum kawin, tetapi bila kau menginginkan anakku yang kedua maka penuhi dulu permintaan saya.” Kelihatan SIBUEA menggunakan Tuan Sogar Manurung untuk melindunginya dari musuh-musuhnya. Adapun pernyataan Bapak SIBUEA untuk menolak dengan halus.  Tetapi, TUAN SOGAR tetap pada pendiriannya dan kelihatan sudah mengerti bahwa akan ada permintaan Bapak Sibuea.  Permintaan Bapak SIBUEA diterimanya untuk mendapatkan boru yang paling kecil (boru siampudan).  Adapun permintaan Bapak Sibuea yaitu TUAN SOGAR harus melawan musuh Bapak SIBUEA yang tinggal di Bius Siantar, sebelah kampung Bapak SIBUEA .

            Tuan Sogar Manurung lalu menyatakan kepada SIBUEA, “mari kita lihat hari yang tepat dan kita (termasuk Tuan Sogar Manurung dan keluarga Sibuea) harus makan pege iris-irisan.” Permintaan Tuan Sogar Manurung disetujui oleh SIBUEA dan Tuan Sogar Manurung menanyakan Raja yang ada di sebelah sungai Asahan tersebut dan ternyata ada dua raja yaitu Raja Marpaung dan Raja Simangunsong dan ulubalangnya dinamai Ulubalang NAPITU. Kedua Raja tersebut selalu mengedepankan Ulubalang NAPITU karena begitu besar dan tidak pernah kalah.

            Ketika hari yang sudah ditentukan akan dekat dipersiapkan maka dimakan pege iris-irisan dan kemudian dipertajam pisau yang diterimanya dari boru Napuan yaitu PISO SIAIT MUAL dengan jeruk mungkur (unte mungkur) dan Ultop yang dimilikinya.  Tuan Sogar pergi mendekati sungai Asahan dan berteriak ke Bius Siantar dan menyatakan sebagai berikut:

 

  1. Halo Bius Siantar, tidak jadi besar hatimu melihat orang kecil kelahirannya karena cukup banyak kalian sehingga mau dimakan yang kecil ini (ndang jadi “HU’ roham mamereng na etek ni partubu, ala torop hamu sai naeng allangon muna SIBUEA).
  2. Kalau pun kalian banyak seperti daun-daun yang dihembuskan angin banyaknya kalian bisa kalian terbenam di air asahan ini (songon godang ni bulung-bulung ma rurus ni ullus ni alogo pe torop mu, boi do mumbang tu aek on).

Pernyataan Tuan Sogar Manurung dijawab dengan “Kalau kau orang hebat dan mempunyai kekuatan datang ke kampung kami ini.”  Tuan Sogar Manurung lalu mengisi Ultopnya lalu ditembakkan ke Bius Siantar dan kena kepada Ulungbalang NAPITU dan langsung meninggal.  Lalu kedua Raja di Bius Siantar sangat marah ingin membunuh Tuan Sogar Manurung.  Keinginan Tuan Sogar Manurung ingin mengalahkan Bius Siantar sangat besar karena keinginan mendapatkan Boru SIBUEA yang cantik dan bisa kerja. Kemudian Tuan Sogar Manurung dan beberapa SIBUEA pergi ke Bius Siantar tepatnya di Aek Julu dan ternyata semua pasukan Bius Siantar banyak yang mati juga dan Tuan Sogar Manurung bertahan di Aek Julu tersebut.

Pada saat beristirahat disitu dan sudah kehausan maka terlihat mereka ada pohon enau (Bahasa bataknya Bagot) dan diatas ada penampungan tuak.  Lalu Tuan Sogar Manurung naik keatas Bagot   tersebut melalui sige (tangga dari Bambu) dan meminum tuak itu dan tertidur diatas pohon Bagot tersebut.  Akhirnya, Tuan Sogar Manurung tertangkap oleh raja Bius Siantar dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa dan harus di hukum mati. Sebelum di eksukusi mati, Tuan Sogar Manurung dibuat dalam penjara (lobu-lobuna) sehingga daerah atau kampung tersebut disebut “LOBU ULUAN.”  

Raja-raja Bius Siantar menentukan hari dengan para dukun untuk mengeksekusi Tuan Sogar Manurung dan diberitahukan kepada Tuan Sogar Manurung melalui suruhan atau ulubalang ayang ada. Kemudian Tuan Sogar meminta permintaannya karena keputusan Raja-raja tersebut tidak bisa ditolak.  Adapun permintaanya yaitu

  1. Kalian harus membuat upacara kepada saya dengan memberikan makanan yaitu anak babi yang baru menjilat-jilat untuk saya makan (Ala ingkon rajahonon muna ma sibaoadi, bahen hamu ma jolo partolahan ima sipanganon, pinahan lobu naso habubuhan laho allangonhu).
  2. Persiapkan    (Itak gur-gur na Siniahan, pisang namabe, pege iris-irisan dohot tuak tangkas an).
  3. Kalian harus buat gendang dan saya menari (ingkon gondangkhonon muna do ahu, laos partorotoron muna).

Raja-raja Bius Siantar bertanya kenapa harus dilakukan itu ? Lalu Tuan Sogar Manurung menjawab bila tidak dilakukan yang saya minta ini maka kalian akan menerima sebagai berikut:

  1. Tidak lahir anak yang gagah perkasa (Ndang sorang be dihamu angka anak nabegu).
  2. Akan datang hantu yang membuat kalian meninggal semua (Manginona tu hamu ma ro begu sompong tu hamu, ima begu antuk, marmatean hamu anon di pudian ni ari).
  3. Akan datang hujan lebat yang tidak bisa dikendalikan (Sotung rot u hamu udan naso hasaongan).

Permintaan Tuan Sogar Manurung dipenuhi raja-raja Bius Siantar. 

Pada hari eksekusi, Tuan Sogar Manurung meminta piso dan ultop yang telah ditahan raja-raja Bius Siantar untuk dipakai pada saat menari karena hari perpisahannya dengan peralatan yang dimilikinya tersebut dan ternyata raja-raja bius Siantar hanya memenuhi Ultop (senapan) tanpa isi peluru sedangkan piso tidak dikabulkan dengan alasan untuk keamanan.  Pesta dengan manortorpun dimulai dan diminta gondang haro-haro yang membuat semua orang seperti orang gila dan termasuk raja-raja dan ulubalang.  Pada saat semua merasa gila karena gondang tersebut maka datanglah Tuan Sogar Manurung mendekat ke depan raja Bius Siantar sambil menari-nari dengan gaya posisi menembak sambil mencium ultopnya kaarah wajah raja, tetapi raja Bius Siantar tidak memperdulikan tingkah laku Tuan Sogar Manurung tersebut karena mereka berpikir bahwa ultop tersebut kosong alias tidak ada peluru.  Raja-raja dan Ulubius Siantar tertawa dan terbahak-bahak sambil meledek gaya manortor Tuan Sogar Manurung padahal mereka tidak tahu bahwa Tuan Sogar sedang berusaha memasukkan sebuah peluru ke dalam Ultop yang sedang dielus dan dipakainya manortor.  Setelah berhasil memasukkan peluru ke dalam ultop tersebut dan gaya manortor gila ultop didihadapkan oleh Tuan Sogar Manurung ke wajah raja Bius Siantar dan menembakan peluru tersebut sehingga raja Bius Siantar meninggal seketika di tempat duduknya.  Melihat raja Bius Siantar kena tembak ultop Tuan Sogar Manurung dan langsung meninggal sehingga penonton dan ulubius panik untuk membantu raja Bius Siantar.  Kepanikan Ulubius dan penonton dipergunakan Tuan Sogar Manurung untuk keluar dari acara melarikan diri karena semua orang tidak memperhatikannya lagi akibat ingin membantu raja Bius Siantar. Tuan Sogar Manurung melarikan diri mendekati sungai Asahan dan melompat ke dalam  sungai Asahan serta menyelam menuju seberang sungai Asahan.  Baru Ulubius dan penonton sadar bahwa Tuan Sogar Manurung tidak manortor lagi sedang gondang terus berlangsung.  Lalu dicarilah Tuan Sogar Manurung sama Ulubius dan para pengikutnya ternyata Tuan Sogar Manurung sudah di seberang sungai dan melambaikan tangan ke seberang sungai Asahan yang sedang berteriak mencari Tuan Sogar Manurung.  Pada saat Tuan Sogar Manurung melambaikan tangan dan berteriak bahwa dia sudah di seberang sungai maka sadarlah Ulubius dan semua orang di Bius Siantar merasa sudah kalah perang dengan Tuan Sogar Manurung dan tahanan mereka sudah lepas.  Setelah menyatakan bahwa Tuan Sogar sudah menyatakan menang dan tidak ada yang mengejar Tuan Sogar Manurung dari Bius Siantar maka turunlah Tuan Sogar dari bukit tersebut menuju perkampungan SIBUEA menemui isterinya yang sudah berbadan dua (hamil).  Kemudian Tuan Sogar Manurung membuka kampung di daerah bawa bukit itu karena cocok untuk bertani dimana daerah tersebut dinamai Galagala Pangkailan.  Pada daerah ada sebuah pohon besar yang cukup besar tempat orang melakukan pemancingan dan pernah juga Tuan Sogar memancing dari pohon tersebut.  Tuan Sogar meminta isterinya boru Sibuea tinggal di Galagala Pangkailan bersama keturunannya karena mau pergi lagi ke Narumambing dan Janjimatogu melihat keturunannya. Tuan Sogar Manurung datang dari Nairumambing ke Galagala Pangkailan dan berpamitan sebelum pergi ke Doloksanggul untuk mengobati di isteri marga Simamora di Doloksanggaul.

Silsilah ni  PuRajum