Guru Pangajian

Berita tentang Guru Pangajian menjadi tinggal di Jangga yang lebih dikenal Jangga Mulak atau Bona Huta.  Pada uraian selanjutnya diuraikan dua versi yang diperoleh oleh penulis.  Tetapi, ujung cerita kelihatan saling berkaitan.  Cerita pertama adanya Guru Pangajian di Jangga Mulak sebagai berikut:

TUAN SOGAR membuat tempat di Lumban Tonga-Tonga Narumambing dan ini tempat terakhirnya karena tempat ini merupakan pertengahan di Zaman itu.  Tempat sentral baginya untuk mengunjungi seluruh keturunan baik ke Janjimatogu dan yang lain.  TUAN SOGAR sangat terkenal kehebatan baik dari perdukunan (datu bolon) maupun tindakan sosialnya yang selalu membantu semua pihak. Bahkan TUAN SOGAR ini selalu tidak terlepas dengan berita kelaki-lakiannya, karena banyak Anak Boru dan Ibu-Ibu menyukainya di zaman itu.

Begitu baiknya TUAN SOGAR hampir semua orang meminta bantuan kepadanya agar persoalan yang dihadapi bisa diselesaikan.  Ada seorang wanita yang sudah ditinggal suami karena meninggal (Janda) dan dalam bahasa batak disebut ina Namabalu sering datang menemui TUAN SOGAR untuk membantunya memperbaiki cangkul yang rusak, tali yang rusak, dan berbagai peralatan pertanian lainnya.  Permintaan tersebut selalu diladeni TUAN SOGAR dan tidak diketahui apakah cara ini dipergunakan Janda ini untuk mendekati TUAN SOGAR, dan berakhir menjadi suami isteri karena telah hamil dan melahirkan anak lelaki yang disebut namanya BURSOK.  Tetapi, TUAN SOGAR tidak serumah dengan Janda (marganya BUTAR-BUTAR). BURSOK selalu hidup bersama dengan ibunya tetapi tidak selalu bersama TUAN SOGAR karena sering melakukan perjalanan untuk aktifitas sehari-hari baik sebagai Dukun Besar (Datu Bolon) maupun membantu orang lain.

            BURSOK semakin besar tetapi tidak tahu siapa Bapaknya, tetapi mukanya, telinga dan matanya hampir mirip dengan TUAN SOGAR.  Janda tersebut telah menyatakan bahwa BURSOK persis sama dengan Bapak yang menjadi pemberi bibit dirimu (Among Parsinuan).  Janda tersebut menyatakan akan menunjukkan kepada BURSOK bila Bapaknya datang ke kampung tempat tinggal BURSOK dan Ibunya.

Pada suatu hari TUAN SOGAR pulang ke Narumambing dari perjalanannya melihat anak atau membantu orang lain karena kedukunannya.  Lalu Janda tersebut memanggil anaknya untuk menunjukkan Bapaknya yaitu TUAN SOGAR.  Janda tersebut memperkenalkannya ke TUAN SOGAR ke BURSOK supaya saling kenal dan sejak itu BURSOK sudah mengenal Bapaknya dan kemungkinan juga sering ketemu serta makan bersama di hutana Narumambing.

BURSOK sudah besar dan sudah mengenal Bapaknya, maka BURSOK mulai berpikir untuk mendapatkan Bagian karena BURSOK anaknya.  BURSOK memberanikan diri untuk mengatakan kepada Bapaknya, yaitu “Karena Aku Anakmu, kasihlah aku “sinalom ni roham” (bagian yang dari hatimu), sepengetahuan ku semua anakmu sudah diberikan hanya saya yang belum mendapatkannya.”  Lalu, TUAN SOGAR menanyakan permintaan BURSOK didepan Ibunya yaitu “ Apa rupanya permintaanmu ?”  BURSOK meminta yang tidak bisa diberikan oleh TUAN SOGAR, dimana dia katakan ke Bapaknya yaitu “Bisa Bapak kasih saya Kerajaanku.  Kalau Bisa Akulah yang menjadi Raja bagi Abang-Abang saya di seluruh tempat yang ada.”  Permintaan ini tidak mungkin diberikan karena permintaan itu menjadi permintaan bahwa BURSOK menjadi anak pertama dari seluruh anaknya TUAN SOGAR.  Bila dilihat dari silsilah anak TUAN SOGAR bahwa BURSOK anak terakhir dan dari isteri yang terakhir pula sebelum pergi ke Dolok Sanggul.  Permintaan ini tidak bisa dipenuhi TUAN SOGAR, dan dijawab yaitu: “Ah tidak benar dan tidak bagus permintaan mu itu. Hanya Ompung Raja Sisingamangaraja yang bisa memberikan kerajaan.”

Permintaan BURSOK terus diajukan kepada TUAN SOGAR, “Kapan Bapak kasih saya Kerajaan untuk seluruh anak-anakmu ?” Karena permintaan itu terus diajukan maka TUAN SOGAR sempat marah ke BURSOK yaitu “Sumbahor do ho, botul do ho anak ni jeng (anak ni gampang).” BURSOK terus meminta dan terakhir mengatakan jadi “Apa yang akan Bapak kasih ke saya?”  TUAN SOGAR lalu menjawab yaitu “Kalau aku butuh ikan untuk jadi laukku, maka kubawa durung ini dari Rumah pergi ke sungai Mandosi.  Durung ini kumasukkan ke sungai tersebut pasti ada dapat saya ikan si pora-pora dan itok supaya punya lauk saya.  Kalau aku mau makan daging kubawalah Ultop maka pergi saya mengultop burung atau Lali, kalau kena ultop itu langsung lemas dan jatuh burung itu.  “Bagaimana durung dan Ultop ini sama kamu BURSOK” kata TUAN SOGAR, karena hanya itu yang kumiliki saat ini.  BURSOK menjawab baiklah saya terima itu untuk menandakan aku anakmu.  Sejak durung dan Ultop diterima BURSOK maka namanya PARULTOP-ULTOP, karena sering kali BURSOK membawa ULTOP untuk memburu burung-burung.   

            Pada suatu saat “PARULTOP-ULTOP” pergi berburu Anduhur dan ditemukan sebuah Anduhur lalu diultopkan sehingga kena Anduhur tetapi terus terbang dan hinggap disamping seorang anak gadis yang sedang membersihkan kebunnya (marbabo porlak) dan ditangkap gadis tersebut. Kemudian PARULTOP-ULTOP merampas burung Anduhur dari gadis tersebut tetapi belum didapatkannya sehingga gadis itu dan PARULTOP-ULTOP saling merampas burung anduhur tersebut.  Kebetulan Raja Sijambang sedang pulang dari perjalanannya dan lewat dari tempat dimana gadis dan PARULTOP-ULTOP sedang saling merampas burung anduhur.  Raja Sijambang bertanya mengapa kalian berdua saling merampas (marsigulut), apa yang terjadi rupanya ? Lalu dijawab bahwa ada anak perjaka dan anak gadis saling merampas burung anduhur.  Raja Sijambang bertanya kepada PARULTOP-ULTOP dan memberikan nasehat bahwa tidak baik bertindak saling merampas dengan anak gadis.  Kemudian Raja Sijambang bertanya kepada PARULTOP-ULTOP dari mana asalnya dan anak siapa PARULTOP-ULTOP itu.  PARULTOP-ULTOP menjawab Raja Sijambang bahwa PARULTOP-ULTOP adalah anaknya TUAN SOGAR dan Raja Sijambang mengatakan wah kamu anak adikku.  Raja Sijambang memutuskan burung anduhur dibagi dua supaya keputusan yang dibuat Raja Sijambang tidak memihak dan keputusan itu diterima anak gadis dan PARULTOP-ULTOP.  Tetapi PARULTOP-ULTOP mengungkapkan keinginannya saya terima dengan syarat bahwa anak gadis itu menjadi isteriku dan Raja Sijambang menyetujui permintaan anak adiknya itu.  Kemudian permintaan PARULTOP-ULTOP ditanyakan kepada anak gadis.  Anak gadis itu menyatakan keinginannya tetapi terlebih dahulu menyatakan mau melamar saya dengan cara pembagian sama atas burung anduhur.  Akhirnya anak gadis dan lawannya PARULTOP-ULTOP dimana Raja Sijambang sebagai Bapaknya dan mereka tinggal di daerah Jangga dengan Raja Sijambang sehingga mereka menyebut daerah itu JANGGA MULAK atau BONA HUTA.

 

Ada cerita lain, bahwa Guru Pangajian pergi dari Janjimatogu ke Jangga dan selalu duduk disamping sungai kecil (bondar) didoloknya Jangga tersebut. Sering kali, Guru Pangajian membuat aji-ajiannya ke sungai tersebut sehingga menimbulkan persoalan kepada penduduk di daerah paling bawah dari sungai (di Toruan bondar) dimana binatang yang dimiliki atau juga peliharaan seperti bebek dan yang lainnya cepat meninggal akibat meminum air tersebut yang datang dari daerak dolok.  Penduduk yang disekitar Jangga Toruan melapor kepada Raja Sijambang dan menyatakan ada orang selalu di dolok membuat sesuatu atau membuang kepintarannya ke sungai (bondar) kita ini.  Raja Sijambang sudah melihat Guru Pangajian selalu ada disitu dan lalu bertanya siapa sebenarnya kamu dan apa kerjaanmu disitu setiap hari duduk-duduk dibawah pohon tersebut.  Guru Pangajian menjelaskan bahwa dia datang dari Janjimatogu ke Jangga ini mau mencari parhutaan.  Lalu Raja Sijambang menyatakan buatlah rumahmu di Dolok itu nanti saya akan melindungi anda sahutnya ke Guru Pangajian.   Guru Pangajian jadi menetap di Dolok Jangga tersebut sampai mempunyai keturunan. Penunjukkan ini sebenarnya agar Guru Pangajian menjadi penjaga huta sebelum masuk ke daerah keluarga Raja Sijambang.  Kemudian mereka kembali pergi ke Janjimatogu untuk pulang ke tempatnya tetapi Abang-abangnya menyebutkannya tidak ada lagi tempat buat kamu di Janjimatogu, tetaplah kamu di Jangga.  Guru Pangajian balik ke Jangga dan disebutlah menjadi Jangga Mulak dan kemudian mereka mulai menyebutkannya Bona Huta atau Jangga Mulak.

Sebelumnya, bila ada pesta di keturunan Guru Pangajian ini selalu menyebutkan jambar kakaknya dari Janjimatogu (Anak Tuan Sogar yang tertua).