Simamora di Dolok Sanggul

TUAN SOGAR Manurung terkenal (tarbarita) mengenai kedukunannya dan gagah perkasanya sampai ke Dolok Sanggul.  Ada seorang Raja Nahum Dimana Simamora di Dolok Sanggul yang sangat kaya raya dan hampir semua tanah Dolok Sanggul miliknya dikarenakan kemenangan dari hasil Judi.  Raja Nahum Dimana sangat pintar dan ahli berjudi di Dolok Sanggul sehingga banyak pihak yang ingin membunuhnya karena tanah Dolok Sanggul sudah dimiliki dan ingin tanah tersebut kembali ke pemilik asalnya.  Artinya, Raja Nahum Dimana dalam posisi yang terjepit sehingga perlu mencari teman untuk melawannya.  Raja Nahum Dimana juga mendengar kehebatan Tuan Sogar yang sangat pintar melawan semua pihak.  Raja Nahum Dimana berencana untuk menemui Tuan Sogar sehingga direncanakan pergi ke daerah Porsea untuk berjudi.  Onan Porsea ini dikenal dengan Onan Nagodang Siapari.  Lalu Raja Nahum Dimana berangkat ke Onan Nagodang Siapari dengan membawa uang manik dan emasnya untuk modal berjuji di onan tersebut.  Ketika melewati Parseian (Porsea) mulai berpikir dan merasa takut semua hartanya akan diambil oleh penduduk disitu, sehingga Raja Nahum Dimana melakukan diskusi (bertarombo) supaya jangan disamun (ditodong) hartanya.  Ketika berdiskusi dan bercerita di beberapa orang maka Raja Nahum Dimana mendapatkan bahwa TUAN SOGAR merupakan orang yang tepat sebagai temannya.  Akhirnya, Raja Nahum Dimana ketemu dengan TUAN SOGAR Manurung di Onan Nagodang Siapari.  Pertemuan TUAN SOGAR dan Raja Nahum Dimana membuat Raja Nahum Dimana pergi bersama TUAN SOGAR ke Lumban Tonga-tonga, Narumambing dan tinggal disitu sambil melakukan perjudian di Onan Nagodang Siapari.  Selama tinggal di Narumambing, Raja Nahum Dimana mendapatkan cerita mengenai Kedatuan dan kekuatan dari TUAN SOGAR, sehingga semakin percaya bahwa ini orang yang saya cari untuk membantu saya melawan musuh di Dolok Sanggul.

            Raja Nahum Dimana meminta TUAN SOGAR untuk membantunya di Dolok Sanggul melawan musuh-musuhnya dan terjadi kesepatakan.  TUAN SOGAR meminta agar mereka pergi dulu melihat anak-anaknya di JanjiMatogu, Gala-Gala Pangkailan dan ke kampung Tulangnya Raja Rumapea di Huta Rihit Samosir.  TUAN SOGAR ingin menyampaikan salam kepada anak-anaknya karena mau pergi dalam lama tinggal di Dolok Sanggul.  Akhirnya urutan perjalanannya yaitu dari Narumambing ke Gala-Gala Pangkailan, Sihubak-Hubak, Janjimatogu, kampung Tulangnya Raja Rumapea di Huta Rihit, Samosir dan ke Bakkara dan naik keatas lagi namanya Batu Najagar.

            Setelah sampai di Dolok Sanggul, maka semua anak-anaknya dan isterinya melaporkan bahwa selama Raja Nahum Dimana tidak di Rumah, maka keluarga ini ditakut-takuti oleh musuh-musuhnya.  Raja Nahum Dimana marah mendengar berita itu dan meminta TUAN SOGAR untuk menentukan hari yang tepat untuk melawan musuh-musuhnya tersebut.  TUAN SOGAR menjawab sebagai berikut: “Nungnga husigat parhalaan, ndang adong gea ditano pangkailan, ndang adong jea, songoni hamagoan ninna pos do roha. Ni rap-rap hodong tinapu salaon, pos rohanta modom, ai ndang adong si jagaon.”  Karena TUAN SOGAR adalah Datu Bolon, maka TUAN SOGAR meminta kepada Raja Nahum Dimana yaitu “pangan hita ma jolo asu sibirong, marganding si bara ulunan dohot munsung na, asa mabiar musu mandopang hita, jala martali-tali tiga bolit ma ho, ahu martali-tali andor nguk-nguk.”  TUAN SOGAR dan Raja Nahum Dimana memakan anjing yang diminta dan mereka berdua berpakaian seperti yang diminta TUAN SOGAR dan berjalan diseluruh kampung Raja Nahum Dimana.  Semua musuh-musuh Raja Nahum Dimana melihat tindakan TUAN SOGAR dan Raja Nahum Dimana  sehingga ketakutan dan akibatnya musuh-musuh Raja Nahum dimana tidak ada lagi.

            Tuan Sogar Manurung sudah merasa cocok dan senang tinggal di Dolok Sanggul dan Raja Nahum Dimana juga merasa senang dan diangkat (diain) Tuan Sogar Manurung menjadi marga Simamora anak ni Raja Nahum Dimana.  Adapun anaknya Raja Nanum Dimana tidak termasuk Tuan Sogar Manurung sebagai berikut:

  1. Raja Sabungan
  2. Boru (Muli tu Marga Manalu)
  3. Guru Manubung
  4. Girsang Martabu
  5. Raja Paimon
  6. Lahi Sabungan

Anak perempuan dari Raja Nahum Dimana pulang ke kampung Bapaknya di Dolok Sanggul karena suaminya mati, sehingga tinggal di rumah Raja Nahum Dimana dan ketemu dengan TUAN SOGAR.  Pertemuan dengan TUAN SOGAR membuat ada rasa hati dikarenakan kehebatan yang dimiliki oleh TUAN SOGAR.  Akhirnya, Boru ni Raja Nahum Dimana hamil dan sudah kelihatan kepada semua orang.  Datang kalimat, ito nya dibuat jadi isterinya dan Raja Nahum Dimana telah mengangkat TUAN SOGAR menjadi Simamora berarti TUAN SOGAR dan anak perempuan  Raja Nahum Dimana sudah melanggar adat.  Ada beberapa pihak memberikan usulan supaya jangan membuat malu, putri Raja Nahum Dimana dibuat Sopo-Sopo di harangan, dan ternyata melahirkanlah putrinya seorang anak laki-laki.  Puteri Raja Nahum Dimana meninggal, dan Rusa yang menyusui bayi anak dari puteri tersebut.  Para pengembala kerbau (parmahan) mendengar tangisan anak kecil atau bayi dari puteri Raja Nahum Dimana dan mendekati tangisan tersebut ternyata anak tersebut bersama Rusa dan menyusuinya.  Lalu pengembala kerbau melaporkan kepada Raja Nahum Dimana, lalu bayi dibawa ke rumah Raja Nahum Dimana dan disampaikan kepada TUAN SOGAR, saya sudah angkat menjadi anak tetapi puteriku melahirkan anak.  TUAN SOGAR menyatakan bahwa bayi itu anak saya dan dinyatakannya “Pirma Tondi ni Anakhi” jawabnya kepada Raja Nahum Dimana.

Sejak itu, namanya disebut PATUAN SOGAR SIMAMORA, kemudian mempunyai kampung di Huta Bagasan di Dolok Sanggul.  Semua anak keturunan PATUAN SOGAR SIMAMORA tidak memakan Rusa akibat kejadian tersebut.TUAN SOGAR tinggal selama hidupnya sisa di Huta Bagasan,Dolok Sanggul dan menurut cerita tidak pernah lagi pulang ke Narumambing, dan Janjimatogu.  TUAN SOGAR meninggal di Dolok Sanggul dan mempunyai Tambak dekat Huta Bagasan, Dolok Sanggul.  Anak TUAN SOGAR ini bernama JUARA MANUNGKUN, dan pesan tidak memakan Rusa datang dari JUARA MANUNGKUN.  Cerita lain, bahwa JUARA MANUNGKUN mau diusir dari Huta Bagasan Dolok Sanggul, tetapi sahala dari TUAN SOGAR selalu melindungi anaknya termasuk semua pomparannya, tetapi keturunannya makin banyak dan terlihat saat ini semakin besar.  Monumen TUAN SOGAR ada dibangun di Janjimatogu dan tidak ada tulang belulangnya disitu dan dibangun oleh anak-anaknya mulai paling besar dan sampai terkecil selain SIMAMORA TUAN SOGAR.